Dari Ruang Pelatihan, Belajar Menyampaikan Cerita yang Menggerakkan
Pukul sembilan pagi, Selasa, 19 Mei 2026. Ruang pertemuan Hotel Aston Kupang mulai dipenuhi peserta dari berbagai instansi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, forum kebencanaan, hingga komunitas penyandang disabilitas. Tidak ada seremoni panjang, tidak ada pidato formal yang berlarut-larut. Suasana justru terasa hangat dan akrab. Tawa kecil terdengar dari beberapa sudut ruangan ketika peserta saling memperkenalkan diri. Di depan ruangan, Halimah Syahroni sebagai host dari Kompas Institute membuka kegiatan dengan sederhana, menandai dimulainya dua hari pembelajaran tentang bagaimana mengemas dan menyampaikan informasi publik secara lebih efektif.
Sebanyak 50 peserta hadir dalam kegiatan “Peningkatan Kapasitas Pengemasan dan Penyampaian Informasi Publik untuk Mitra Kerja” yang diselenggarakan Program SIAP SIAGA Provinsi NTT bersama Kompas Institute. Mereka berasal dari berbagai lembaga seperti BPBD Provinsi NTT, PUSDALOPS-PB, Bapperida, DP3AP2KB, Forum Pengurangan Risiko Bencana, organisasi non-pemerintah, hingga perwakilan kelompok disabilitas. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka dipersatukan oleh satu kebutuhan yang sama, bagaimana membuat informasi penting dapat dipahami, dirasakan, dan diingat oleh masyarakat.
Saat memberikan sambutan, Koordinator Program SIAP SIAGA Provinsi NTT, Silvia Fanggidae mengajak peserta melihat kembali budaya bertutur yang telah lama hidup di Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, masyarakat NTT memiliki tradisi kuat dalam mewariskan pengetahuan melalui cerita. Namun, banyak pengetahuan lokal yang berharga belum terdokumentasikan dalam bentuk tulisan. Ia mencontohkan pengetahuan masyarakat Rote yang membangun rumah dengan posisi pintu membelakangi arah selatan untuk menghindari terpaan angin kencang musiman. Pengetahuan seperti ini diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi jarang tercatat secara tertulis. Melalui pelatihan ini, Silvia berharap semakin banyak cerita dan pengetahuan lokal NTT yang dapat ditulis dan dibagikan kepada publik.
Harapan tersebut kemudian diperkuat oleh Tarrence Palar dari Kompas Institute. Ia menjelaskan bahwa kemampuan menulis dan menyampaikan informasi bukan hanya soal jurnalistik, tetapi juga tentang bagaimana sebuah pesan dapat menjangkau masyarakat luas dan memberikan manfaat nyata. Ia mengajak peserta untuk melihat informasi publik bukan sekadar laporan kegiatan, melainkan sarana untuk menyebarkan praktik baik dan pembelajaran yang dapat menginspirasi banyak orang.
“ mereka dipersatukan oleh satu kebutuhan yang sama, bagaimana membuat informasi penting dapat dipahami, dirasakan, dan diingat oleh masyarakat.
Memasuki sesi utama, suasana ruangan berubah semakin hidup. Fransiskus Pati Herin, Wartawan Desk Regional Harian Kompas, mengajak peserta membedah dua tulisan yang memuat fakta yang sama tetapi disampaikan dengan cara berbeda. Diskusi segera berkembang. Peserta menilai tulisan yang menggunakan pendekatan storytelling terasa lebih menarik karena mampu menghadirkan emosi dan membuat pembaca seolah melihat langsung peristiwa yang diceritakan. Dari diskusi tersebut, muncul pemahaman bersama bahwa storytelling bukan berarti melebih-lebihkan fakta, melainkan menghadirkan detail-detail nyata yang membuat pembaca merasa hadir di lokasi kejadian.
Sepanjang sesi, peserta diajak membayangkan bagaimana suara gemuruh gunung, debu yang beterbangan, atau ekspresi wajah seseorang dapat dituangkan ke dalam tulisan. Mereka belajar bahwa sebuah cerita yang baik tidak hanya menjawab apa yang terjadi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana peristiwa itu dirasakan oleh manusia yang mengalaminya. Berbagai pertanyaan kritis muncul dari peserta, terutama terkait batasan antara menghadirkan sisi humanis dan mengeksploitasi penderitaan korban bencana. Diskusi tersebut menghasilkan kesepahaman bahwa etika harus tetap menjadi fondasi utama dalam setiap tulisan.
Tidak hanya belajar menulis, peserta juga diajak memahami kekuatan sebuah foto. Berbagai contoh gambar ditampilkan dan didiskusikan bersama. Sebuah foto anak yang sedang menikmati makanan sederhana mampu memunculkan beragam interpretasi tentang kemiskinan, ketahanan hidup, dan kondisi sosial masyarakat. Melalui latihan tersebut, peserta menyadari bahwa satu foto yang diambil pada momen yang tepat dapat menyampaikan pesan yang tidak selalu mampu dijelaskan oleh banyak kata.
Pada hari pertama, pembelajaran berlanjut dengan materi public speaking yang dibawakan Agnes Theodora Wolkh Wagunu. Peserta diajak memahami bahwa berbicara adalah sebuah keterampilan yang memerlukan persiapan dan empati. Dalam konteks kebencanaan, kemampuan berbicara menjadi sangat penting karena informasi yang disampaikan dapat memengaruhi kepercayaan publik, mengurangi kepanikan, bahkan membantu pemulihan psikologis korban. Simulasi konferensi pers bencana yang dilakukan peserta membuat suasana pelatihan semakin interaktif. Mereka berlatih menjawab pertanyaan sulit, mengelola perbedaan pendapat, dan menyampaikan informasi secara akurat tanpa kehilangan sisi kemanusiaan.
Memasuki hari kedua, fokus pembelajaran bergeser pada penulisan naratif dan pemanfaatan media sosial. Rini Kustiasih mengajak peserta melihat media sosial sebagai ruang publik yang membutuhkan tanggung jawab. Berbagai studi kasus dibahas, mulai dari komentar pejabat publik yang menimbulkan kontroversi hingga praktik komunikasi yang tenang dan empatik seperti yang pernah dilakukan almarhum Sutopo Purwo Nugroho. Diskusi berlangsung hangat. Peserta berbagi pengalaman menghadapi komentar negatif di media sosial dan mendiskusikan bagaimana membangun narasi yang mampu menenangkan masyarakat sekaligus membangun kepercayaan publik.
Menjelang akhir kegiatan, setiap peserta mempresentasikan tugas menulis yang telah mereka kerjakan. Berbagai cerita perubahan, pengalaman lapangan dan praktik baik bermunculan dari berbagai daerah di NTT. Dari ruang pelatihan itu terlihat bahwa kemampuan bercerita bukan hanya milik jurnalis. Aparatur pemerintah, relawan, organisasi masyarakat sipil hingga komunitas disabilitas memiliki cerita-cerita penting yang layak disampaikan kepada publik.
“ cara menyampaikannya menentukan apakah pesan tersebut akan berhenti sebagai laporan atau hidup sebagai cerita yang menggerakkan orang lain.
Dua hari pembelajaran akhirnya ditutup dengan satu kesadaran bersama, fakta tetap menjadi inti dari setiap informasi, tetapi cara menyampaikannya menentukan apakah pesan tersebut akan berhenti sebagai laporan atau hidup sebagai cerita yang menggerakkan orang lain. Dari Hotel Aston Kupang, para peserta pulang bukan hanya membawa catatan pelatihan, melainkan perspektif baru tentang bagaimana menulis, berbicara dan berkomunikasi dengan lebih manusiawi. Sebuah langkah kecil yang diharapkan dapat memperkaya dokumentasi pengetahuan kebencanaan di Nusa Tenggara Timur dan memperkuat hubungan antara pemerintah, mitra pembangunan dan masyarakat yang mereka layani.