Napak Tilas Pemulihan: Peran Vital Perempuan & Anak Pascabencana Lewotobi Laki-Laki

Facebook
X
WhatsApp

Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun ke-67 Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTT bersama CIS Timor Indonesia dan Save the Children menyelenggarakan talkshow bertajuk “Napak Tilas Perjuangan Perempuan dan Anak Melewati Badai Erupsi Lewotobi Laki-laki,” (Kamis, 18/12/2025) bertempat di halaman Kantor Gubernur NTT. Acara ini digelar untuk merefleksikan peran kelompok rentan dalam penanggulangan bencana sekaligus memperkuat kesiapsiagaan berbasis komunitas.

Talkshow menghadirkan lima narasumber yang berasal dari latar belakang berbeda, namun sama-sama memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur. Mereka adalah Syafrudin Herman, S.E., M.M. (Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi NTT), Germana Gelole, S.Pd (Kepala Sekolah SD Inpres Wokorona sekaligus Ketua Gugus SD Huntara), Roby Lay (Humanitarian Specialist Save The Clidren), Frans Pati Herin (Jurnalis Kompas), serta Aprilina Daria Gamut, seorang siswi SD Inpres Jongwolor yang menjadi suara langsung dari anak-anak terdampak. Diskusi dipandu oleh Roni Banase, jurnalis yang telah lama menggeluti liputan kebencanaan di NTT.

Dalam paparannya, para pembicara tak hanya menyoroti dampak fisik bencana, melainkan juga kekuatan sosial yang tumbuh di tengah krisis. Germana Gelole, misalnya, menceritakan bagaimana sekolah darurat (huntara) menjadi ruang aman dan pemulihan psikososial bagi anak-anak. Sementara Aprilina, dengan lugas, membagikan harapannya agar anak-anak tetap bisa belajar meski dalam situasi darurat.

Selain talkshow, acara juga diisi dengan kuis interaktif berhadiah yang menyasar peserta dari berbagai usia. Materi kuis mencakup pengetahuan dasar kebencanaan, seperti mitigasi tanah longsor, tindakan saat gempa, hingga peran BPBD dalam penanggulangan kebencanaan. Pendekatan edukasi melalui permainan ini dinilai efektif untuk menanamkan kesadaran kebencanaan sejak dini.

Pameran ini juga menampilkan karya fotografi Jurnalis Kompas, Frans Pati Herin yang secara khusus mendokumentasikan kisah di balik bencana. Hasil jepretannya tidak sekadar menangkap gambar, tetapi mengungkap cerita, pergulatan, dan ketangguhan yang sering tersembunyi. Kehadiran karya jurnalistik ini bertujuan memberikan kedalaman, konteks, dan sudut pandang manusiawi yang memperkaya pemahaman publik mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana.

Acara ini diharapkan tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga pengingat bagi para pemangku kebijakan bahwa inklusivitas dan partisipasi kelompok rentan harus menjadi fondasi dalam setiap strategi penanggulangan bencana. Sebab, di tengah kerentanan, mereka justru menyimpan ketangguhan yang mampu mengubah narasi bencana dari sekadar tragedi menjadi pelajaran kolektif menuju NTT yang lebih siap dan tangguh***(YR)

Scroll to Top