KUPANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Politeknik Negeri Kupang sepakat menjalin kerja sama strategis dalam upaya penanggulangan bencana kekeringan melalui program pertanian adaptif. Kolaborasi ini diawali dengan kunjungan Plt. Kepala Pelaksana BPBD NTT beserta Tim ke Kampus Politeknik Kupang pada Sabtu, 2 Agustus 2025.
Kerja sama ini lahir dari kepedulian bersama terhadap kondisi kekeringan yang kerap melanda wilayah Nusa Tenggara Timur. Plt. Kepala Pelaksana BPBD NTT, Semuel Halundaka, S.IP.,M.Si menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. “Bencana bukan hambatan, melainkan peluang. Masyarakat sangat mengharapkan kehadiran pemerintah dan akademisi untuk mendukung terwujudnya ketahanan pangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, program ini akan menjadi yang pertama di NTT, bahkan di tingkat nasional. Program yang akan dilaksanakan di Desa Oebesi, Kecamatan Amarasi Timur, Kabupaten Kupang ini akan menjadi desa percontohan dan telah mendapat dukungan dari pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda setempat.
Mengingat keterbatasan fiskal pemerintah daerah, Plt. Kepala BPBD NTT juga menekankan pentingnya model kerja pentaheliks. “Kami tidak meminta anggaran, kami meminta teknologi dan pengetahuan yang akan dibagikan kepada masyarakat,” katanya.
Ia berharap, program ini tidak berakhir setelah kegiatan selesai, melainkan terus berlanjut untuk ketahanan pangan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Politeknik Kupang, Frans Mangngi, S.T.,M.Eng.,IPM menyambut baik inisiatif ini dan menyatakan kesiapan lembaganya untuk berkontribusi. “Politeknik Kupang siap untuk berkontribusi. Kami akan membentuk tim khusus dan memberikan intervensi, namun harus ada jaminan keberlanjutan,” tegasnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program, Direktur Politeknik mengharapkan adanya surat resmi dari Gubernur NTT yang akan ditindaklanjuti dengan pengalokasian anggaran dari kampus. Tim kerja sama juga akan dibentuk melalui Surat Keputusan (SK) resmi.

Fokus utama dalam kerja sama ini adalah penanganan kekeringan dengan teknologi sumur bor bertenaga surya. Dukungan Politeknik akan mencakup water management seperti irigasi tetes perpipaan dan panel surya. Selain itu, potensi biogas juga akan dikembangkan mengingat banyaknya populasi ternak di desa tersebut.
Berita: Yusta R.